Menilik Diri Kembali (Reevaluasi Konsepsi dan Realitas Diri)

Manusia datang dengan tidak membawa apa-apa, hanya dirinya dengan fitrah kemanusiannya. Pun ketika pergi tidak membawa apa-apa, hanya amal yang telah dilakukannya.
Gusti Alloh, Sang Pemilik Hidup hanya ingin kita mempertanggungjawabkan apa yang telah Dia berikan, yaitu berupa kehidupan dan segala nikmat yang sudah diberikan. mempertanggungjawabkan akan apa?
Kita hanya akan ditanya, apakah selama kita hidup di dunia, kita telah lurus sesuai dengan apa yang diperintahkan ?
Dia sudah menurunkan satu Kitab sebagai operating manual melalui Rosul-Nya ditambah sunnah Nabi-Nya. Disana paling tidak ada panduan mengenai tiga hal:
1. Beraqidah
2. Beribadah
3. Berakhlaq
Kitab dan sunnah Nabi itu adalah standar dan konsepsinya. Manusia dengan kehidupan dan perbuatan yang dijalani adalah sebuah realitanya. Gusti Alloh akan mengevaluasi kita kelak saat Yaumil Qiyamah, sudahkah realitas kehidupan kita sesuai dengan standar itu? Adakah penyimpangan?
Jika tidak ada penyimpangan amanlah kita.
Jika ada penyimpangan sedikit dari standar pada hal-hal yang ringan dan Dia ampuni maka amanlah kita, dengan rahmatNya.
Jika ada penyimpangan yang tidak Dia tolerir dan tidak Dia ampunia maka kita akan mendapat hukuman sesuai dengan penyimpangan itu, dengan keadilan-Nya.
Aqidah kita, sudah luruskah sesuai dengan standar itu?
Ibadah kita, sudah luruskah sesuai dengan standar itu?
Akhlaq kita?
Untuk bisa menjawab itu, maka ada beberapa hal yang perlu kita lakukan:
1. Kita harus bisa mengenali, mengetahui, dan memahami standar itu. Apa yang telah standar itu sampaikan kepada kita, apa isinya, apa maksudnya. Kita harus tahu apa yang Quran dan Sunnah ajarkan, bagaimana maksudnya. Tanpa tahu isi Quran dan Sunnah, bagaimana kita bisa menilai diri kita? Inilah MEMAHAMI STANDAR
2. Kita harus senantiasa mengamati gerak-gerik kita sendiri, melihat aqidah kita, melihat ibadah kita, melihat akhlaq kita, mengamatinya setiap waktu. Merekam setiap pemikiran kita, merasakan apa yang hati kita katakan, mengingat perbuatan yang kita lakukan. Inilah MELIHAT REALITAS DIRI.
3. Lantas membandingkan antara REALITAS DIRI kita dengan STANDAR itu. Sudah sesuaikah? Masih menyimpangkah? Disinilah muhasabah. Disinilah perkataan Hasibuu anfusakum qobla an tuhaassabu mendapatkan maknanya… Evaluasilah dirimu sebelum kamu dievaluasi sama Gusti Alloh…
4. Maka jika standar dengan realitas sudah sesuai maka istiqomahlah, lanjutkan dengan tetap melakukan continuous improvement, agar semakin meningkat kualitasnya. Kalau masih menyimpang, ada deviasi antara realitas dan standar maka perbaikilah.
Maka mari sekarang kita tanyakan pada diri kita apakah kita sudah benar-benar mengetahui isi standar itu? Quran dan Sunnah? Sudahkan kita mengetahui maksudnya? Kalau belum mari kita mulai belajar sekarang. Penulis melihat diri penulis dan masyarakat muslim Indonesia, banyak yang belum mengetahui isi dari Al Quran yang mungkin sering kita baca itu. Sehingga penulis berfikir, bagaimana kalau kita tidak tahu apa yang kita baca? Bukanlah akhirnya kita tidak tahu apa yang menjadi standarnya?
Ya, tentu untuk mempelajarinya kita membutuhkan ulama, karena mereka adalah warosatul ambiya’. Karena kalau kita belajar Quran dan Hadist langsung tanpa melalui ulama maka kita punya resiko besar akan terjatuh kedalam kesalahpahaman memahaminya. Maka perlu ilmu juga untuk belajar. Belajarpun perlu ilmu. Apalagi untuk memahami Quran dan Sunnah. Ada rambu-rambunya.
Proses ini (Pahami standar, Baca realitas diri, bandingkan, perbaiki) secara teoritis mudah. Tapi mungkin akan butuh effort. Maka mari kita berdoa pada Gusti Alloh agar senantiasa memudahkan jalan kita agar hidup kita lurus sesuai yang Dia perintahkan. Amien.
Bagaimana Beraqidah, Beribadah, Berakhlaq untuk diri kita. Pun juga melihat realitas sekeliling dan standar Quran dan Sunnah dalam bidang epolisosbudhankam secara berkelindan. Semoga bisa ikut pula berpartisipasi dalam hal ini pula, setelah diri dan keluarga kita.
Maka apa hal konkrit setelah ini?
Belajar Tafsir Al Quran. Sambil belajar sambil melihat diri, sambil evaluasi. Sebagaimana sahabat yang ketika belajar Quran akan langsung mengamalkannya. Sebagaimana kisah masyhur dari K.H. Ahmad Dahlan saat mengajarkan Tafsir Al Ma’un.
Semoga Gusti Alloh selalu menguatkan kita untuk istiqomah dijalan-Nya. Amien