Dua Mata Koin: Integritas dan Pengorbanan
Oleh: Ikhsanudin
Etoser Jogja 2007
Kemarin baru saja rutinitas itu berlalu, menyisakan sekelumit kisah nan syahdu, dalam indahnya pengalaman hidup yang mengalir dalam buaian Tebar Hewan Qurban Etoser Jogja. Satu hal yang coba untuk dirayakan Etoser Jogja adalah peristiwa lama yang menjadi sejarah Bapak kita yang dari dahulu mencontohkan integritas yang luar biasa besarnya. Makna Idul Qurban akan menjadi ritual tanpa makna jika tidak dinikmati dan dicari segala hikmah yang tersirat padanya. Termasuk makna integritas dan pengorbanan.
Integritas adalah tunggalnya ucapan, pemikiran, dan tindakan seseorang. Apa yang muncul dalam lintasan benaknya, adalah sama dengan yang dirasakan dalam hatinya dan menjadi konsep hidupnya, sama juga dengan segala amal perbuatan yang keluar dari sosok pribadi itu. Integritas adalah lawan kemunafikan,lawan dari sifat hiprokit yang hina dina.
Jika orang hiprokit berkata dusta, berjanji mengingkari, dipercaya berkhianat, maka orang yang berintegritas akan berkata benar, menepati janji, dan memegang kepercayaan sebaik-baiknya.
Jika orang hipokrit esok dele, sore tempe ( pagi kedelai, sore tempe) bicaranya mencla-mencle, beda waktu, beda ucapan, beda orang, beda ucapan, melarang tapi melakukan, menyuruh tapi tanpa teladan bahkan berkebalikan, akan sangat berbeda dengan yang punya integritas. Integritas, ketika berbicara bisa membuktikan, menyuruh berani berteladan, dan kokoh dalam perkataannya, satu dalam cipta, rasa, dan karyanya. Itulah definisi integritas.
Pengorbanan sendiri adalah suatu usaha untuk merelakan hilangnya sesuatu, entah materi, entah perasaan, bisa pula tenaga untuk mendapatkan suatu tujuan yang lebih tinggi nilainya dari apa yang dikorbankan.
Sungguh sangat tinggi nilai pengorbanan itu. Bahkan harga ekonomipun ada karena adanya sebuah pengorbanan untuk membuat barang itu ada dan bisa dipakai. Ketika udara yang menjadi nafas kita ini melimpah ruah dan pengorbanan yang manusia lakukan untyuk mendapatkan udara ini, hampir bisa dikatakan tidak ada, walaupun sangat butuhnya kita terhadap udara ini, tidak ada biaya yang dikeluarkan. Tetapi ketika emas, sesuatu perhiasan yang bahkan tanpanya pun manusia tetap akan hidup bernilai mahal. Mengapa itu? Tak lain dan tak bukan karena sesungguhnya pengorbanan untuk mendapatkan emas adalah pengorbanan yang besar. Sungguh besar nilai pengorbanan itu.
Sekilas kedua hal tersebut tidak ada sangkut pautnya satu sama lain. Integritas dan Pengorbanan. Akan tetapi sungguh ada kaitan yang sangat erat. Kaitan yang dibuktikan dengan indahnya oleh seorang Bapak Ahli Tauhid sajati, dialah Nabi Ibrohim, beserta keluarganya.
Ketika Nabi Ibrohim kecil, Tuhan mulai dia cari dengan akalnya. Ketika rembulan datang dan kemudian menghilang, ketika matahari datang dan kemudian menghilang, Nabi Ibrohim tidak menyukai Tuhan Yang Menghilang, dan beliau memasrahkan dirinya ke Tuhan Seluruh Alam.
Sungguh Nabi Ibrohim mencintai Allah dengan secinta-cintanya. Nabi Ibrohim, hatinya terpenuhi dengan kecintaan kepada Allah SWT, di fikiran beliau sungguh besar keyakinan kepada Allah SWT. Bahkan karena itu maka julukan kholilulloh disandangkan kepada Nabi Ibrohim.
Malaikat kemudian ingin menguji Integritas Nabi Ibrohim sendiri dengan suatu ujian. Maka sampailah malaikat ke rumah Nabi Ibrohim dengan menjelma menjadi seorang pengemis. Nabi Ibrohim pun berkata kepada pengemis itu, “ Ya, saya akan memberikan sepertiga hartaku asal engkau memuji Nama Allah SWT. “. Maka malaikat itu memuji,” Subhanal Malikil Quddus, Subhanal Malikil Quddus, Subbuhun Quddusun Robbuna Worobbul Malaikati War Ruh”. Tersentaklah Nabi Ibrohim karena amat cintanya lepada Alloh SWT, dan beliau baru mendengar pujian itu pertama kalinya. Lalu bahkan beliau berjanji memberikan seluruh hartanya ke pengemis itu. Dan malaikat yakin benarlah Nabi Ibrahim adalah Kholilulloh.
Itu pengorbanan harta Nabi Ibrohim yang menunjukkan bahwa cintanya, pemasrahan dirinya kepada Alloh SWT bukan hanya ucapan, tapi juga perbuatan.
Sampai suatu ketika saat itu Nabi Ibrohim menyembelih beribu unta, dan domba, sampai seluruh kota itu memuji beliau. Karena memang cinta beliau kepada Alloh SWT. Tapi Nabi Ibrohim pun juga manusia, beliau kemudian berucap, “ Seandainya saya punya putra putrapun akan saya korbankan untuk Alloh SWT.
Dan ketika itu setelah lama putra yang ditunggu-tunggu datang dengan kelucuannya, dengan kesholihannya, dengan segala kebaktiannya kepada orang tuanya, maka saat itu Alloh SWT kembali menguji integritas Nabi Ibrahim. Benarkah apa yang diucapkannya dahulu?
Maka bermimpilah Nabi Ibrahim selama tiga malam dengan mimpi yang memerintahkan untuk menunaikan nadzarnya. Ucapan yang oleh Alloh SWT sebagai nadzar. Saat itu benar-benar integritas beliau diuji dengan dahsyatnya. Anak yang selama ini jadi yang menjadi qurrota a’yun, yang membuat hati senang harus dikorbankan karena perintah Alloh. Bahkan ketika Nabi Ismail, sang putra diberi tahu untuk itu, maka belaiu bersedia. Tahu akan dikorbankan, tetapi masih bersedia. sungguh integritas yang luar biasa. Sang istri pun, Hajar tak mampu digoda lagi oleh setan. Dan Ibrohim melempari setan pertama, kedua, dan ketiga yang membujuk agar lebih cinta anak dibanding cinta Alloh SWT. Jadilah tugu Ula, Wustho, dan Aqobah.
Di jalan mereka, Ibrahim dan Ismail saling menumpahkan air matanya tanda perpisahan. Saling menumpahkan rasa cintanya yang begitu dalam. Dan tibalah di batu tempat penyembelihan itu tiba. Allohu Akbar. Saat pisau mulai berjaln mengiris Hilanglah Ismail dan bergantilah dengan kambing kibas.
Ya, terbuktilah Integritas Nabi Ibrohim, bahwa beliau lebih cinta kepada Alloh SWT, dibanding dengan cintanya kepada Nabi Ismail. Dan bukti dari itu adalah pengorbanan, mengorbankan anaknya untuk mencapai ridho dan cinta Alloh SWT.
Pengorbanan inilah bukti tingginya integritas seseorang. Dan mari kita meneladani Bapak Ahli Tauhid kita yang punya integritas kuat. Kalaulah kita berani bilang A maka Alah yang kita lakukan. Kisah itu menjadi hikmah yang dalam. Carilah dan selami maknanya. Asal integritas diri dibangun dalam landasan kebenaran dari Tuhan. Bukan selainnya.
Yogyakarta, 1 Desember 2009
Beastudi Etos, LPI, DD Republika