Dua Mata Koin: Integritas dan Pengorbanan

Desember 1, 2009 oleh alghozaligeneration

Dua Mata Koin: Integritas dan Pengorbanan

Oleh: Ikhsanudin

Etoser Jogja 2007

Kemarin baru saja rutinitas itu berlalu, menyisakan sekelumit kisah nan syahdu, dalam indahnya pengalaman hidup yang mengalir dalam buaian Tebar Hewan Qurban Etoser Jogja. Satu hal yang coba untuk dirayakan Etoser Jogja adalah peristiwa lama yang menjadi sejarah Bapak kita yang dari dahulu mencontohkan integritas yang luar biasa besarnya. Makna Idul Qurban akan menjadi ritual tanpa makna jika tidak dinikmati dan dicari segala hikmah yang tersirat padanya. Termasuk makna integritas dan pengorbanan.

Integritas adalah tunggalnya ucapan, pemikiran, dan tindakan seseorang. Apa yang muncul dalam lintasan benaknya, adalah sama dengan yang dirasakan dalam hatinya dan menjadi konsep hidupnya, sama juga dengan segala amal perbuatan yang keluar dari sosok pribadi itu. Integritas adalah lawan kemunafikan,lawan dari sifat hiprokit yang hina dina.

Jika orang hiprokit berkata dusta, berjanji mengingkari, dipercaya berkhianat, maka orang yang berintegritas akan berkata benar, menepati janji, dan memegang kepercayaan sebaik-baiknya.

Jika orang hipokrit esok dele, sore tempe ( pagi kedelai, sore tempe) bicaranya mencla-mencle, beda waktu, beda ucapan, beda orang, beda ucapan, melarang tapi melakukan, menyuruh tapi tanpa teladan bahkan berkebalikan, akan sangat berbeda dengan yang punya integritas. Integritas, ketika berbicara bisa membuktikan, menyuruh berani berteladan, dan kokoh dalam perkataannya, satu dalam cipta, rasa, dan karyanya. Itulah definisi integritas.

Pengorbanan sendiri adalah suatu usaha untuk merelakan hilangnya sesuatu, entah materi, entah perasaan, bisa pula tenaga untuk mendapatkan suatu tujuan yang lebih tinggi nilainya dari apa yang dikorbankan.

Sungguh sangat tinggi nilai pengorbanan itu. Bahkan harga ekonomipun ada karena adanya sebuah pengorbanan untuk membuat barang itu ada dan bisa dipakai. Ketika udara yang menjadi nafas kita ini melimpah ruah dan pengorbanan yang manusia lakukan untyuk mendapatkan udara ini, hampir bisa dikatakan tidak ada, walaupun sangat butuhnya kita terhadap udara ini, tidak ada biaya yang dikeluarkan. Tetapi ketika emas, sesuatu perhiasan yang bahkan tanpanya pun manusia tetap akan hidup bernilai mahal. Mengapa itu? Tak lain dan tak bukan karena sesungguhnya pengorbanan untuk mendapatkan emas adalah pengorbanan yang besar. Sungguh besar nilai pengorbanan itu.

Sekilas kedua hal tersebut tidak ada sangkut pautnya satu sama lain. Integritas dan Pengorbanan. Akan tetapi sungguh ada kaitan yang sangat erat. Kaitan yang dibuktikan dengan indahnya oleh seorang Bapak Ahli Tauhid sajati, dialah Nabi Ibrohim, beserta keluarganya.

Ketika Nabi Ibrohim kecil, Tuhan mulai dia cari dengan akalnya. Ketika rembulan datang dan kemudian menghilang, ketika matahari datang dan kemudian menghilang, Nabi Ibrohim tidak menyukai Tuhan Yang Menghilang, dan beliau memasrahkan dirinya ke Tuhan Seluruh Alam.

Sungguh Nabi Ibrohim mencintai Allah dengan secinta-cintanya. Nabi Ibrohim, hatinya terpenuhi dengan kecintaan kepada Allah SWT, di fikiran beliau sungguh besar keyakinan kepada Allah SWT. Bahkan karena itu maka julukan kholilulloh disandangkan kepada Nabi Ibrohim.

Malaikat kemudian ingin menguji Integritas Nabi Ibrohim sendiri dengan suatu ujian. Maka sampailah malaikat ke rumah Nabi Ibrohim dengan menjelma menjadi seorang pengemis. Nabi Ibrohim pun berkata kepada pengemis itu, “ Ya, saya akan memberikan sepertiga hartaku asal engkau memuji Nama Allah SWT. “. Maka malaikat itu memuji,” Subhanal Malikil Quddus, Subhanal Malikil Quddus, Subbuhun Quddusun Robbuna Worobbul Malaikati War Ruh”. Tersentaklah Nabi Ibrohim karena amat cintanya lepada Alloh SWT, dan beliau baru mendengar pujian itu pertama kalinya. Lalu bahkan beliau berjanji memberikan seluruh hartanya ke pengemis itu. Dan malaikat yakin benarlah Nabi Ibrahim adalah Kholilulloh.

Itu pengorbanan harta Nabi Ibrohim yang menunjukkan bahwa cintanya, pemasrahan dirinya kepada Alloh SWT bukan hanya ucapan, tapi juga perbuatan.

Sampai suatu ketika saat itu Nabi Ibrohim menyembelih beribu unta, dan domba, sampai seluruh kota itu memuji beliau. Karena memang cinta beliau kepada Alloh SWT. Tapi Nabi Ibrohim pun juga manusia, beliau kemudian berucap, “ Seandainya saya punya putra putrapun akan saya korbankan untuk Alloh SWT.

Dan ketika itu setelah lama putra yang ditunggu-tunggu datang dengan kelucuannya, dengan kesholihannya, dengan segala kebaktiannya kepada orang tuanya, maka saat itu Alloh SWT kembali menguji integritas Nabi Ibrahim. Benarkah apa yang diucapkannya dahulu?

Maka bermimpilah Nabi Ibrahim selama tiga malam dengan mimpi yang memerintahkan untuk menunaikan nadzarnya. Ucapan yang oleh Alloh SWT sebagai nadzar. Saat itu benar-benar integritas beliau diuji dengan dahsyatnya. Anak yang selama ini jadi yang menjadi qurrota a’yun, yang membuat hati senang harus dikorbankan karena perintah Alloh. Bahkan ketika Nabi Ismail, sang putra diberi tahu untuk itu, maka belaiu bersedia. Tahu akan dikorbankan, tetapi masih bersedia. sungguh integritas yang luar biasa. Sang istri pun, Hajar tak mampu digoda lagi oleh setan. Dan Ibrohim melempari setan pertama, kedua, dan ketiga yang membujuk agar lebih cinta anak dibanding cinta Alloh SWT. Jadilah tugu Ula, Wustho, dan Aqobah.

Di jalan mereka, Ibrahim dan Ismail saling menumpahkan air matanya tanda perpisahan. Saling menumpahkan rasa cintanya yang begitu dalam. Dan tibalah di batu tempat penyembelihan itu tiba. Allohu Akbar. Saat pisau mulai berjaln mengiris Hilanglah Ismail dan bergantilah dengan kambing kibas.

Ya, terbuktilah Integritas Nabi Ibrohim, bahwa beliau lebih cinta kepada Alloh SWT, dibanding dengan cintanya kepada Nabi Ismail. Dan bukti dari itu adalah pengorbanan, mengorbankan anaknya untuk mencapai ridho dan cinta Alloh SWT.

Pengorbanan inilah bukti tingginya integritas seseorang. Dan mari kita meneladani Bapak Ahli Tauhid kita yang punya integritas kuat. Kalaulah kita berani bilang A maka Alah yang kita lakukan. Kisah itu menjadi hikmah yang dalam. Carilah dan selami maknanya. Asal integritas diri dibangun dalam landasan kebenaran dari Tuhan. Bukan selainnya.

Yogyakarta, 1 Desember 2009

Beastudi Etos, LPI, DD Republika

nasionalisme saya

Oktober 14, 2009 oleh alghozaligeneration

Pendidikan Bayangan melalui Desa Kebangsaan
(Selangkah Menuju Imperium Ketiga)
Oleh: Ikhsanudin
Hari itu bertepatan dengan 17 Agustus 2009, dimana beberapa rakyat Indonesia di Kota Jogja masih melakukan ritual perayaaan tujuhbelasan di kampungnya masing-masing. Setelah beberapa hari sebelumnya berbagai macam perlombaan bertaburan menghias siang maka tanggal 17 adalah puncak perayaan. Dimulai dari malam 17 dengan sarasehan dan tasyakuran bertabur hadiah dan muhasabah, diakhiri dengan pertunjukan arak-arakan pada esok harinya. Sungguh suatu tradisi hebat bertabur bintang.
Ya, hitung-hitung kasar, masih mendingan ada yang ingat akan hari kemerdekaan bangsa ini. Meskipun perayaan-perayaan itu tidak lebih dari sekedar seremonial belaka, tanpa ada serapan nilai-nilai yang masuk dalam jiwa menjadi sebuah hikmah yang mampu menebarkan gairah maupun media transfer semangat dari pejuang zaman dulu kala ke masa milenium ketiga yang kata Jayabaya menjadi jaman edan, ra edan ra kumanan.
Saat itu saya diundang untuk ikut dalam acara perayaan kemerdekaan yang diadakan oleh BEM KM UGM. Ada rasa bangga terselip di sanubari dan menjadi alasan mengapa saya mau untuk mengikuti acara itu. Karena dari sekitar lima puluh ribu mahasiswa UGM dengan ratusan organisasi kampusnya, ternyata yang mau menggaungkan kata-kata bermuatan nasionalisme tidak ada seperseratusnya. Apalagi untuk merasakan getaran jiwa para pejuang kemerdekaan dan menyerap nasionalisme darinya.
Bahkan di BEM saya sendiri saja peringatan itu hanya sebatas memasang bendera merah putih dari plastik di depan sekretariat saja. Lain tidak, mungkin hanya sekecil kajian muhasabah nasionalisme dalam kemerdekaan yang sengaja saya adakan, namun yang hadir hanya 10 orang dari 300 orang anggota BEM Keluarga Mahasiswa Fakultas Teknik.
Dalam acara BEM KM UGM itu pembicara yang datang adalah Eko Prasetyo, seorang aktivis, dan kritikus kehidupan sosial di mantan negeri macan Asia ini. Orang yang sempat mengarang buku-buku keras semisal ‘Orang Miskin Dilarang Sakit’, ‘Orang Miskin Dilarang Sekolah’, memberikan suatu pernyataan yang begitu fundamental untuk diterapkan di Indonesia dan bahkan menjadi solusi atas segala masalah di Indonesia.
Pendidikan yang benar lah, kata Pak Eko, kunci dari permasalahan negeri ini. “Di Iran, mengapa kok anak-anak muda disana sangat benci dengan Amerika, sangat anti dengan Yahudi, Zionis, marah terhadap mereka, ialah karena pendidikan.”,kata beliau. Bayangkan ,lanjut Pak Eko, Mata Pelajaran Matematika SD di Iran saja soalnya seperti ini, ‘Seorang petani irak membeli 40 karung gandum dari negeri sahabat Argentina, kemudian ditengah jalan 10 karung dirampas oleh Amerika, dan ketika kemudian gandum itu disimpan di rumah petani Iran itu, 20 karung gandum dicuri oleh orang Yahudi. Berapa karung gandumkah yang masih dimiliki oleh petani Iran itu?’. Hampir seperti itulah apa yang disampaikan Pak Eko waktu itu.
Sungguh pendidikanlah satu-satunya cara untuk bisa mendidik manusia Indonesia mempunyai kebanggan, keteguhan, tidak rendah diri, dan malu korupsi. Sebagaimana pendidikan itu mampu membuat bangsa Iran tidak mau tunduk pada bangsa Amerika dan sekutunya. Dan dengan pendidikan itulah mereka sanggup hidup sendiri tanpa bantuan dari negara lain, teguh, mandiri atas embargo ekonomi negara lain.
Ya, pendidikanlah. Tiada jalan lain yang mempunyai sifat multiplier effect selain pendidikan. Akan tetapi sayang beribu sayang, pendidikan di Indonesia yang seharusnya bisa melahirkan para manusia cerdas berbudi dan bangga pada bangsanya ternyata menjadi salah satu penyebab kerusakan bangsa itu sendiri.
Pendidikan Indonesia jika dilihat dari sejarah bangsa tidaklah tepat disebut sebagai pendidikan tapi tepat disebut sebagai pengajaran belaka. Daya-daya nalar bangsa Indonesia sungguh luar biasa tanpa tanding dan tiada duanya. Olimpiade-olimpiade mata pelajaran Internasional selalu dimenangkan oleh Indonesia. Pemuda-pemuda cerdas sungguh memenuhi bangsa Ini. Betapa tidak, sejak kecil, logika telah dipacu, matematika kelas tinggi, hapalan-hapalan rumus diajarkan dalam stata sekolah dasar.
Tetapi sungguh memelas kurikulum-kurikulum moral bangsa, kebangsaaan, kepercayaaan diri, ketangguhan, nasionalisme, patriotisme, tidak tersentuh oleh pendidikan kita. Sejarah-sejarah perjuangan bangsa yang begitu gagah beraninya hanya diajarkan dalam bentuk hapalan untuk ditanyakan dalam ujian saja. ‘Kapan Indonesia berkonfrontasi dengan Malaysia?, tahun berapa?’. Soal-soal semacam itulah yang menghiasi buku pendidikan kita.
Sejarah hanya dipakai sebagai isi kepala. Apa yang seharusnya ditanyakan adalah, ‘Apakah yang saat itu dibela Soekarno sehingga beliau berani mengumumkan konfrontasi dengan Malaysia dan bahkan keluar dari PBB?’. Ya, jawaban yang deskriptif namun sangat mengena. Atau setidaknya menyentuh logika hati nurani sebagai bangsa yang punya martabat. Mungkin guru-guru kita malas untuk mengoreksi jawaban deskriptif seperti itu, yang ternyata begitu hebatnya dibandingkan dengan soal pilihan ganda yang tak bernilai apapun kecuali memenuhi kepala tanpa guna nyata selain nilai ujian.
Upacara yang menjadi ritual setiap hari Senin, dianggap sebagai output yang harus dilaksanakan. Padahal seharusnya bisa dimaknai lebih dalam, digali kandungan filosofisnya mengapa ada pengibaran bendera, mengapa kita hormat kepada Sang Saka, mengapa menyanyikan Indonesia Raya. Upacara menjadi gersang nilai.
Pendidikan adalah solusi paling utama dan pertama untuk membangun Indonesia yang punya kebanggaan, keteguhan, keteguhan, semangat nasionalisme yang membumi. Tetapi Pendidikan Indonesia terbukti gagal total. Entah karena isinya, caranya, biayanya, ataupun sistem, dan landasan operasionalnya yang belum baik. Biaya pendidikan yang begitu mahalnya. Sistem Wajar Sembilan Tahun yang tak mampu menghasilkan kompetensi berdaya guna. Lingkungan sekolah dan kampus yang begitu hedonisnya. Adalah ironi nyata.
Maka ketika pendidikan pemerintah tidak bisa diandalkan, kita, saya, anda, dan semua yang peduli pada bangsa ini harus membangun suatu institusi pendidikan tandingan, institisi pendidikan bayangan yang bisa melaksanakan amanah kebangsaan, amanah membangun manusia Indonesia yang berbudaya luhur dan bermartabat.
Dimana produk-produk pendidikan pemerintah yang diberdirikan oleh negara menjatuhkan negaranya sendiri. Dimana para politisi hasil didikan negara yang menjadi koruptor di negrinya sendiri. Dimana teknisi-teknisi didikan negara kita malah menjadi komprador bagi asing, berwatak subordinat. Seperti dikatakan Einstein, ilmu pengetahuan tanpa moral adalah buta, dan moral tanpa pengetahuan adalah lumpuh. Banyak terbukti jika lulusan pendidikan negri ini buta. Buta hatinya, buta kebangsaannya, buta nasionalismenya, buta semangatnya.
Pertanyaannya sekarang adalah pendidikan model apakah yang bisa kita tawarkan dan dijalankan secara efektif untuk bisa membuat manusia Indonesia tangguh, tidak bermental terjajah. Apakah itu? Pendidikan itu adalah membentuk Desa Kebangsaan.
HM Nasruddin Anshoriy, yang telah mendirikan Pesan Trend Budaya Ilmu Giri Yogyakarta, adalah salah satu pejuang-pejuang milenium kita dalam membangun generasi Indonesia yang prima. Desa kebangsaan yang dibuat beliau berlokasi di Imogiri, Bantul. Adalah sebuah kekritisan yang sangat dalam dan hebat. Meskipun beliau bukanlah seorang sarjana tapi pemikirannya yang sungguh cemerlang dan bersifat nasionalis ternyata mampu melampaui ilmu lulusan-lulusan perguruan tinggi manapun.
Pendidikan bayangan melalui Desa Kebangsaan yang mengedepankan aspek-aspek kebangsaan, keluhuran budi, kebanggan pada bangsa, kepercayaan diri, patriotisme, keteguhan inilah solusi yang amat tepat bagi bangsa ini. Karenanya semua elemen bangsa, siapapun harus bersiap saling membantu melakukan sesuatu untuk bisa ikut berkontribusi disana.
Semua pihak mesti bersatu tanpa melihat latar belakang agama, etnis, golongan atau apapun. Karena itu, tanpa peduli warna bajunya, mau biru, putih, merah atau yang lainnya, yang terpenting adalah visi-misinya untuk menjawab problem bangsa ini. Begitulah Gus Nas, berkata.
Sungguh kita merindukan kembali seorang pemimpin yang mampu berteriak, ‘Lingis Inggris, Setrika Amerika’. Kita merindukan kembali pemimpin yang berani mengatakan ‘Ganyang Malaysia’. Kita merindukan kembali pemimpin yang tegap dan penuh kebanggan dan kepercayaan diri yang dalam ketika ia pergi ke negara adidaya dan dengan bangganya anak-anak bangsa menyanyikan Indonesia Raya di negeri dimana Obama berkuasa.
Saya sendiri yakin bahwa mental-mental unggul itu hanya bisa tercipta ketika kebanggan akan tanah air begitu nyata dan menjadi laku utama. Nasionalisme tertanan kuat dalam sanubarinya. Kepercayaaan diri nya terbangun dengan rapi dengan keluhuran martabat. Dia terdidik dalam nuansa perjuangan yang disalurkan menurut cara-cara yang kontekstual kontemporer.
Tiada lain, tiada bukan, orang-orang seperti ini adalah hasil dari pendidikan yang baik, hasil dari olah cipta, rasa, karsa yang tidak sembarangan. Dan melalui Desa Kebangsaanlah, pendidikan yang melahirkan generasi baru ini muncul. Bahkan bisa saja dari sanalah seseorang yang oleh Orang Jawa disebut sebagai Ratu Adil itu muncul, atau yang oleh Ronggowarsito telah diramalkan sebagai pemimpin ketuju yang saat itu Indonesia berada dalam kejayaan.
Dan suatu nilai plus yang tidak sekedar plus bahwasanya Desa Kebangsaan ini mempunyai model dan teknis yang hampir sama dengan Desa Binaan. Desa Binaan yang banyak dibuat oleh mahasiswa-mahasiswa Indonesia, terutama dari BEM. Di fakultas dimana penulis berada, departemen dari BEM Fakultas Teknik bagian Sosial masyarakat telah berhasil mendirikan Desa Mandiri Energi dan bahkan sedang dalam proses pembuatan kembali Desa Mandiri Energi di Prambanan.
Tinggal nanti memasukkan konsep-konsep kebangsaan kedalamnya, pendidikan yang sinambung, dimodifikasi sedemikian rupa, ditambah pembekalan-pembekalan ketrampilan, dan mengadakan kegiatan bernafaskan nasionalisme beserta pemaknanaan yang dilaksanakan secara tersususn rapi dan kontinu. Insya Allah misi itu akan terjalankan dengan baik.
Karena apa yang dibangun di Desa Kebangsaan itu bukanlah materi fisik yang membutuhkan biaya besar, tapi yang dibangun adalah moral, pendidikan, dan pengetahuan, serta konsep-konsep kebangsaan yang menambah kabanggaan, kepercayaan di diri dan membuat masyarakat mempunyai mental pahlawan yang bermartabat dan tidak mau dilecehkan. Mereka akan jadi pembela-pembela bangsa yang setia, pahlawan bagi bangsanya, tidak akan mau melukai negaranya dengan korupsi, kolusi, nepotisme, maupun pengkhianatan –pengkhianatan yang kerap terjadi oleh hasil pendidikan negeri ini. Mereka akan sadar bahwa bangsa ini punya kekayann yang begitu besarnya, kemajemukan yang begitu dahsytnya, keragaman yang begitu luar biasanya yang mampu membuat kebanggaan dan keteguhan.K indonesia sebenarnya adalah negara yang kaya, mampu, bisa, teguh,. Kuat yang dahulu pernah menjadi raksasa dunia. Sriwijaya, dan majapahit adalah cikal bakal nasantara yang begitu gajahnya menguasai dunia.
Itulah nili-nilai yang akan ditanamkan kepadanya. Kita datang ke desa-desa , bersosialisasi dan mulai membangun peradaban dengan Pendidikan Bayangan ini. Menankan kecintaan pada bangsa, menghargai karya pejuang yang membangun Indonesia dengan darah dan senjtanya.
Walupun dari sesuatu yang kecil yaitu desa. Tetapi tetap penyusun padang-padang pasir adalah sebutir pasir. Meskipun kecil tapi dari situlah kejayaan bangsa ini kan timbul. Kita tak akan takut unuk meneriakkan Ganyang Malaysia ketika budaya kita direbutnya. Kita tak akan takut meskipun ribuan senjata ditodongkan kepada Indonesia. Ya, dari desa kebangsaanlah, imperium ketiga itu akan berdiri.

bencana sosial vs bencana alam

Oktober 10, 2009 oleh alghozaligeneration

Buletin KASTRAT BEM KMFT UGM ANTARA GEMPA DAN PERBUATAN MANUSIA (ANTARA BENCANA ALAM DAN BENCANA SOSIAL BUDAYA, BAHAYA MANA?) Secara empiris mungkin tidak terlihat ada hubungan yang bersifat langsung antara bencana alam yang melanda Indonesia yaitu gempa dengan perilaku-perilaku manusia yang jauh dari nilai kebenaran. Akan tetapi sebagai manusia yang berTuhan, pun dasar negara ini adalah Pancasila yang sila pertamanya berbunyi Ketuhanan Yang Maha Esa maka menghubungkan antara gempa bumi dengan dosa manusia adalah suatu hal yang wajar dan logis. Bencana alam bisa diterjemahkan kedalam tiga fungsi: fungsi cobaan, fungsi peringatan, dan fungsi hukuman. Fungsi cobaan terjadi ketika orang yang diuji adalah orang yang bertaqwa. Dia mendapatkan ujian sebagai bukti nyata bahwa memang dirinya adalah orang yang bertaqwa. Fungsi peringatan terjadi ketika kesalahan telah dilakukan akan tetapi kerusakan belum mencapai taraf yang membahayakan. Dan fungsi hukuman muncul ketika peringatan tidak diindahkan, hati telah gelap tidak bisa menerima segala macam nasehat kebaikan. Terlepas dari fungsi apakah yang telah diampu oleh gempa itu, entah cobaan, peringatan, atau hukuman walaupun sulit dikatakan itu adalah cobaan, tetapi bencana alam itu mengingatkan kepada kita bahwa sesungguhnya gempa itu datang karena dalam kehidupan kita ada bencana yang lebih berbahaya yaitu bencana sosial budaya dan bencana keimanan. Bencana sosial budaya bahkan menjadi pemandangan sehari-hari yang diwajarkan. Narkoba, minuman keras, free sex, kumpul kebo, korupsi, judi, pencurian, penjarahan, perampokan, pembunuhan, penipuan, kolusi, nepotisme, pemikiran-pemikiran sesat, gaya hidup glamour, apatis, pragmatis, individualis, sekulerisme, liberalisme, gay, lesbian, dan berbagai bencana lainnnya terjadi tanpa kita sadari. Bencana itu seperti gunung es yang sedikit timbul ke permukaaan tapi setiap detik terjadi. Bahkan bencana itu menjangkiti pemimpin-pemimpin yang seharusnya menjadi sung tulodho. Budaya uang, bahkan wanita telah menjangkiti DPR di Senayan yang baru saja berhenti dari tugasnya. Media-media yang menyebarkan penyesatan opini, tayangan-tayangan kekerasan, pornografi, pornoaksi, gosip-gosip tidak jelas, tayangan klenik, atau yang menyebarkan sinkretisme agama adalah makanan sehari-hari. Agama yang luhur semakin lama semakin luntur. Tergerus oleh globalisasi yang mengendus merontokkan kesopanan dan mengalihkan kedalam nilai-nilai meterialisme dan kebebasan tanpa batas. Humanisme dan kemanusiaaan dipakai sebagai tedeng aling-aling dan dalil untuk menghalalkan kemauan hawa nafsu kebinatangan. Semakin lama agama hanya menjadi rutinitas tanpa makna. Agama hanya dipandang sebagai ritual tanpa esensi. Dan agama semakin dijauhkan dari kehidupan masyarakat, bangsa, negara. Agama dipandang sebagai ranah pribadi yang tidak berhubungan dengan ranah sosial apalagi politik. Inilah bencana keimanan. Bencana-bencana ini lebih berbahaya dari sekedar gempa bumi, kerena bencana alam berakibat dengan kerusakan fisik, sedangkan bencana sosial menghasilkan kerusakan ruhaniah, mental, dan bangsa bahkan merusak masa depan setelah kematian. Jika bencana sosial itu datang dan kita tidak mencegahnya, maka bencana alam akan datang entah datang sebagai hukuman, maupun peringatan dan mengenai siapa saja entah yang melakukan kemungkaran maupun yang tidak, semuanya kena. Banyak yang telah datang untuk menyeru kebaikan. Tapi sedikit sekali yang mencegah kejahatan dan kekejian terjadi di masyarakat. Kita sadar negara ini adalah negara hukum yang hukumnya berasal dari peninggalan Belanda. Karena itulah pencegahan kemungkaran belum bisa tercapai Tetapi wajib bagi kita mencegah kemungkaran, kejahatan, kalau tidak dengan tangan, maka dengan lisan atau tulisan, dan terpaksanya kalau tidak bisa, maka dengan hati. Karena sampai kapanpun kebenaran tidak bisa berdamai dengan keburukan. Dan masalah umat ini adalah masalah kita semua. Berjuang! KASTRAT, Dengan Kajian Mencari Kebenaran.

Oktober 10, 2009 oleh alghozaligeneration

Buletin KASTRAT BEM KMFT UGM
ANTARA GEMPA DAN PERBUATAN MANUSIA (ANTARA BENCANA ALAM DAN BENCANA SOSIAL BUDAYA, BAHAYA MANA?)
Secara empiris mungkin tidak terlihat ada hubungan yang bersifat langsung antara bencana alam yang melanda Indonesia yaitu gempa dengan perilaku-perilaku manusia yang jauh dari nilai kebenaran.
Akan tetapi sebagai manusia yang berTuhan, pun dasar negara ini adalah Pancasila yang sila pertamanya berbunyi Ketuhanan Yang Maha Esa maka menghubungkan antara gempa bumi dengan dosa manusia adalah suatu hal yang wajar dan logis.
Bencana alam bisa diterjemahkan kedalam tiga fungsi: fungsi cobaan, fungsi peringatan, dan fungsi hukuman. Fungsi cobaan terjadi ketika orang yang diuji adalah orang yang bertaqwa. Dia mendapatkan ujian sebagai bukti nyata bahwa memang dirinya adalah orang yang bertaqwa.
Fungsi peringatan terjadi ketika kesalahan telah dilakukan akan tetapi kerusakan belum mencapai taraf yang membahayakan. Dan fungsi hukuman muncul ketika peringatan tidak diindahkan, hati telah gelap tidak bisa menerima segala macam nasehat kebaikan.
Terlepas dari fungsi apakah yang telah diampu oleh gempa itu, entah cobaan, peringatan, atau hukuman walaupun sulit dikatakan itu adalah cobaan, tetapi bencana alam itu mengingatkan kepada kita bahwa sesungguhnya gempa itu datang karena dalam kehidupan kita ada bencana yang lebih berbahaya yaitu bencana sosial budaya dan bencana keimanan.
Bencana sosial budaya bahkan menjadi pemandangan sehari-hari yang diwajarkan. Narkoba, minuman keras, free sex, kumpul kebo, korupsi, judi, pencurian, penjarahan, perampokan, pembunuhan, penipuan, kolusi, nepotisme, pemikiran-pemikiran sesat, gaya hidup glamour, apatis, pragmatis, individualis, sekulerisme, liberalisme, gay, lesbian, dan berbagai bencana lainnnya terjadi tanpa kita sadari.
Bencana itu seperti gunung es yang sedikit timbul ke permukaaan tapi setiap detik terjadi. Bahkan bencana itu menjangkiti pemimpin-pemimpin yang seharusnya menjadi sung tulodho. Budaya uang, bahkan wanita telah menjangkiti DPR di Senayan yang baru saja berhenti dari tugasnya.
Media-media yang menyebarkan penyesatan opini, tayangan-tayangan kekerasan, pornografi, pornoaksi, gosip-gosip tidak jelas, tayangan klenik, atau yang menyebarkan sinkretisme agama adalah makanan sehari-hari.
Agama yang luhur semakin lama semakin luntur. Tergerus oleh globalisasi yang mengendus merontokkan kesopanan dan mengalihkan kedalam nilai-nilai meterialisme dan kebebasan tanpa batas. Humanisme dan kemanusiaaan dipakai sebagai tedeng aling-aling dan dalil untuk menghalalkan kemauan hawa nafsu kebinatangan.
Semakin lama agama hanya menjadi rutinitas tanpa makna. Agama hanya dipandang sebagai ritual tanpa esensi. Dan agama semakin dijauhkan dari kehidupan masyarakat, bangsa, negara. Agama dipandang sebagai ranah pribadi yang tidak berhubungan dengan ranah sosial apalagi politik. Inilah bencana keimanan.
Bencana-bencana ini lebih berbahaya dari sekedar gempa bumi, kerena bencana alam berakibat dengan kerusakan fisik, sedangkan bencana sosial menghasilkan kerusakan ruhaniah, mental, dan bangsa bahkan merusak masa depan setelah kematian.
Jika bencana sosial itu datang dan kita tidak mencegahnya, maka bencana alam akan datang entah datang sebagai hukuman, maupun peringatan dan mengenai siapa saja entah yang melakukan kemungkaran maupun yang tidak, semuanya kena.
Banyak yang telah datang untuk menyeru kebaikan. Tapi sedikit sekali yang mencegah kejahatan dan kekejian terjadi di masyarakat. Kita sadar negara ini adalah negara hukum yang hukumnya berasal dari peninggalan Belanda. Karena itulah pencegahan kemungkaran belum bisa tercapai
Tetapi wajib bagi kita mencegah kemungkaran, kejahatan, kalau tidak dengan tangan, maka dengan lisan atau tulisan, dan terpaksanya kalau tidak bisa, maka dengan hati.
Karena sampai kapanpun kebenaran tidak bisa berdamai dengan keburukan. Dan masalah umat ini adalah masalah kita semua. Berjuang!
KASTRAT, Dengan Kajian Mencari Kebenaran.

Asuransi: Citra Buruk vs Perannya yang Mulia

September 30, 2009 oleh alghozaligeneration

Asuransi: Citra Buruk vs Perannya yang Mulia

Oleh: Ikhsanudin

Saya teringat sebuah cerpen, entah dimana saya membacanya, tapi saya ingat betul isi ceritanya. Cerpen itu mengisahkan akan sebuah keluarga miskin yang hidup tepat di dekat rel kereta api. Sang kepala keluarga dan istrinya adalah orang-orang pinggiran yang miskin harta. Mereka mempunyai banyak anak kecil bahkan masih ada yang bayi. Kesemuanya masih kecil, pekerjaan mereka hanya bermain-main disekitar rel.

Sang bapak dan istrinya itu mengasuransikan anak-anaknya kepada sebuah perusahaan asuransi. Dan suatu ketika satu anaknya meninggal tertabrak kereta. Beberapa waktu yang cukup lama berlalu anaknya yang lain kembali pulang ke hadirat-Nya karena tertabrak kereta. Dan kembali lagi peristiwa di rel kereta berulang. Akan tetapi anehnya guratan kesedihan tidak nampak pada suami istri itu. Ya, memang sengaja dibiarkan anak-anaknya tertabrak untuk memperoleh beberapa juta rupiah guna kebutuhan menyambung nyawa mereka.

Saya tidak akan bercerita mengenai begitu tidak manusiawinya orang tua itu, tetapi suatu hal menarik adalah begitu cerdiknya orang tua itu mencari uang dengan memanfaatkan asuransi. Dalam cerita itu pihak asuransi hampir-hampir menolak permohonan klaim saat kasus ketiga tetapi memang karena tidak ada unsur kesengajaan dalam kasus itu maka klaim pun berhasil didapatkan.

Asuransi dipandang sebagai pihak yang akan membayar kerugian yang diderita dan kaya akan harta dari adanya premi-premi yang dibayarkan oleh orang-orang yang menjaminkan sesuatu tetapi sesuatu itu banyak yang berada dalam kondisi aman. Sehingga klaim yang harus dibayarkan lebih sedikit dari pada premi yang masuk.

Seperti itulah gambaran pandangan masyarakat yang umum selama ini. Dipercaya atau tidak, begitulah logika orang-orang Indonesia terutama yang berada dalam kelas menengah ke bawah berfikir tentang asuransi. Karena itu meskipun Indonesia berpenduduk 220 juta baru 5 juta penduduk yang melakukan penetrasi ke asuransi dan baru 30 juta polis yang mendaftar dalam asuransi kelompok (www.bringinlife.co.id).

Belum lagi bahwasanya citra asuransi sangat buruk dalam masyarakat tertentu. Beberapa agama tertentupun menghindari asuransi termasuk Islam, selain agama Amish. Beberapa orang menganggap dalam asuransi ada unsur maisir maupun ghoror. Maisir adalah bahwasanya asuransi dianggap sebagai badan usaha yang seperti melakukan perjudian dengan taruhan. Ketika semua orang membayar premi asuransi maka pemilik asuransi diibaratkan sedang bertaruh dengan uang premi itu. Tentunya pemilik asuransi akan berharap agar sesuatu yang dijaminnya tidak terkena apa-apa, karena kalau itu terjadi maka harus menggantinya. Begitulah sebagian orang meyakininya.

Ada pula unsur ghoror atau ketidakpastian. Ketidakpastian mengenai nasib apa yang dijaminkan. Ketidakpastian apa yang akan terjadi dengan apa yang dijaminkan itu. Pun juga dibuktikan dengan penggunaan ilmu akturia dengan statistika dan probabilitas sebagai dasar utama.

Meskipun dalam Islam sendiri masih terjadi perbedaan pendapat antara ahli hukumnya, tetapi pandangan seperti itu jelas-jelas menghambat laju meluasnya asuransi di Indonesia. Diperlukan sebuah langkah ekstra untuk mengatasi benang kusut tersebut. Karena disadari ataupun tidak asuransi adalah unsur terpenting dari sebuah negara. Landasan fiolosofisnya adalah kewajiban negara untuk bisa menjadi saluran penanggungan resiko terhadap warganya yang mempunyai masalah. Dan ketika peran ini semuanya ditanggung negara tidak mungkin akan bisa terlaksana. Sehingga kehadiran asuransi lain perlu untuk menuanaikan tugas itu. Bahkan secara ideologis filosofis asuransi dilandasi oleh semangat tolong-menolong atau ta’awun yang berlanjut dengan takaful atau penanggungan beban bersama.

Takaful dan ta’awun adalah salah satu bagian dari prinsip hidup berjamaah, bermasyarakat. Pandangan inilah yang harus disebarkan dan disemaikan dalam relung hati masyarakat kita. Karena tetap saja resiko pasti ada, dan premi yang dibayarkan adalah sebagai balas jasa karena asuransi mau untuk diajak berbagi gelisah.

Tetapi beruntunglah merebaknya takaful-takaful syariah ternyata mampu membangkitkan masyarakat untuk mengikuti asuransi.

Sesungguhnya asuransi adalah sebuah jasa yang bisa menjadi salah satu pilar ekonomi suatu bangsa. Fakta mengatakan bahwa semakin maju suatu bangsa semakin besarlah peran asuransi disana. Karena asuransi bisa menjadi salah satu cara yang bisa menyediakan investasi besar dan dana besar untuk pembangunan negeri ini. Sarana fisik, fasilitas umum, jalan raya, terminal, akan mudah terbangun dengan modal besar yang disediakan oleh asuransi. Keuntungan ini akan berbalik ke masyarakat sendiri.

Akan tetapi citra asuransi harus terus dinaikkan dengan bekerja secara profesional. Berita yang tidak sedap tentang Askeskin harus ditanggapi dengan tindakan positif baik oleh negara maupun penyedia jasa asuransi supaya paling tidak selain jika seseorang terkena musibah akan barangnya dia akan mendapatkan klaim maka pun jika ada orang yang lebih tidak mampu dibanding dia dan mendapat musibah, uang premi yang dibayarkan bisa menolong mereka.

Asuransi: Citra Buruk vs Perannya yang Mulia

September 30, 2009 oleh alghozaligeneration

Saya teringat sebuah cerpen, entah dimana saya membacanya, tapi saya ingat betul isi ceritanya. Cerpen itu mengisahkan akan sebuah keluarga miskin yang hidup tepat di dekat rel kereta api. Sang kepala keluarga dan istrinya adalah orang-orang pinggiran yang miskin harta. Mereka mempunyai banyak anak kecil bahkan masih ada yang bayi. Kesemuanya masih kecil, pekerjaan mereka hanya bermain-main disekitar rel.
Sang bapak dan istrinya itu mengasuransikan anak-anaknya kepada sebuah perusahaan asuransi. Dan suatu ketika satu anaknya meninggal tertabrak kereta. Beberapa waktu yang cukup lama berlalu anaknya yang lain kembali pulang ke hadirat-Nya karena tertabrak kereta. Dan kembali lagi peristiwa di rel kereta berulang. Akan tetapi anehnya guratan kesedihan tidak nampak pada suami istri itu. Ya, memang sengaja dibiarkan anak-anaknya tertabrak untuk memperoleh beberapa juta rupiah guna kebutuhan menyambung nyawa mereka.
Saya tidak akan bercerita mengenai begitu tidak manusiawinya orang tua itu, tetapi suatu hal menarik adalah begitu cerdiknya orang tua itu mencari uang dengan memanfaatkan asuransi. Dalam cerita itu pihak asuransi hampir-hampir menolak permohonan klaim saat kasus ketiga tetapi memang karena tidak ada unsur kesengajaan dalam kasus itu maka klaim pun berhasil didapatkan.
Asuransi dipandang sebagai pihak yang akan membayar kerugian yang diderita dan kaya akan harta dari adanya premi-premi yang dibayarkan oleh orang-orang yang menjaminkan sesuatu tetapi sesuatu itu banyak yang berada dalam kondisi aman. Sehingga klaim yang harus dibayarkan lebih sedikit dari pada premi yang masuk.
Seperti itulah gambaran pandangan masyarakat yang umum selama ini. Dipercaya atau tudak, begitulah logika orang-orang Indonesia terutama yang berada dalam kelas menengah ke bawah berfikir tentang asuransi. Karena itu meskipun Indonesia berpenduduk 220 juta baru 5 juta penduduk yang melakukan penetrasi ke asuransi dan baru 30 juta polis yang mendaftar dalam asuransi kelompok (www.bringinlife.co.id).
Belum lagi bahwasanya citra asuransi sangat buruk dalam masyarakat tertentu. Beberapa agama tertentupun menghindari asuransi termasuk Islam, selain agama Amish. Beberapa orang menganggap dalam asuransi ada unsur maisir maupun ghoror. Maisir adalah bahwasanya asuransi dianggap sebagai badan usaha yang seperti melakukan perjudian dengan taruhan. Ketika semua orang membayar premi asuransi maka pemilik asuransi diibaratkan sedang bertaruh dengan uang premi itu. Tentunya pemilik asuransi akan berharap agar sesuatu yang dijaminnya tidak terkena apa-apa, karena kalau itu terjadi maka harus menggantinya. Begitulah sebagian orang meyakininya.
Ada pula unsur ghoror atau ketidakpastian. Ketidakpastian mengenai nasib apa yang dijaminkan. Ketidakpastian apa yang akan terjadi dengan apa yang dijaminkan itu. Pun juga dibuktikan dengan penggunaan ilmu akturia dengan statistika dan probabilitas sebagai dasar utama.
Meskipun dalam Islam sendiri masih terjadi perbedaan pendapat antara ahli hukumnya, tetapi pandangan seperti itu jelas-jelas menghambat laju meluasnya asuransi di Indonesia. Diperlukan sebuah langkah ekstra untuk mengatasi benang kusut tersebut. Karena disadari ataupun tidak asuransi adalah unsur terpenting dari sebuah negara. Landasan fiolosofisnya adalah kewajiban negara untuk bisa menjadi saluran penanggungan resiko terhadap warganya yang mempunyai masalah. Dan ketika peran ini semuanya ditanggung negara tidak mungkin akan bisa terlaksana. Sehingga kehadiran asuransi lain perlu untuk menuanaikan tugas itu. Bahkan secara ideologis filosofis asuransi dilandasi oleh semangat tolong-menolong atau ta’awun yang berlanjut dengan takaful atau penanggungan beban bersama.
Takaful dan ta’awun adalah salah satu bagian dari prinsip hidup berjamaah, bermasyarakat. Pandangan inilah yang harus disebarkan dan disemaikan dalam relung hati masyarakat kita. Karena tetap saja resiko pasti ada, dan premi yang dibayarkan adalah sebagai balas jasa karena asuransi mau untuk diajak berbagi gelisah.
Tetapi beruntunglah merebaknya takaful-takaful syariah ternyata mampu membangkitkan masyarakat untuk mengikuti asuransi.
Sesungguhnya asuransi adalah sebuah jasa yang bisa menjadi salah satu pilar ekonomi suatu bangsa. Fakta mengatakan bahwa semakin maju suatu bangsa semakin besarlah peran asuransi disana. Karena asuransi bisa menjadi salah satu cara yang bisa menyediakan investasi besar dan dana besar untuk pembangunan negeri ini. Sarana fisik, fasilitas umum, jalan raya, terminal, akan mudah terbangun dengan modal besar yang disediakan oleh asuransi. Keuntungan ini akan berbalik ke masyarakat sendiri.
Akan tetapi citra asuransi harus terus dinaikkan dengan bekerja secara profesional. Berita yang tidak sedap tentang Askeskin harus ditanggapi dengan tindakan positif baik oleh negara maupun penyedia jasa asuransi supaya paling tidak selain jika seseorang terkena musibah akan barangnya dia akan mendapatkan klaim maka pun jika ada orang yang lebih tidak mampu dibanding dia dan mendapat musibah, uang premi yang dibayrkan bisa menolong mereka.

Asuransi: Citra Buruk vs Perannya yang Mulia

September 30, 2009 oleh alghozaligeneration

Saya teringat sebuah cerpen, entah dimana saya membacanya, tapi saya ingat betul isi ceritanya. Cerpen itu mengisahkan akan sebuah keluarga miskin yang hidup tepat di dekat rel kereta api. Sang kepala keluarga dan istrinya adalah orang-orang pinggiran yang miskin harta. Mereka mempunyai banyak anak kecil bahkan masih ada yang bayi. Kesemuanya masih kecil, pekerjaan mereka hanya bermain-main disekitar rel.
Sang bapak dan istrinya itu mengasuransikan anak-anaknya kepada sebuah perusahaan asuransi. Dan suatu ketika satu anaknya meninggal tertabrak kereta. Beberapa waktu yang cukup lama berlalu anaknya yang lain kembali pulang ke hadirat-Nya karena tertabrak kereta. Dan kembali lagi peristiwa di rel kereta berulang. Akan tetapi anehnya guratan kesedihan tidak nampak pada suami istri itu. Ya, memang sengaja dibiarkan anak-anaknya tertabrak untuk memperoleh beberapa juta rupiah guna kebutuhan menyambung nyawa mereka.
Saya tidak akan bercerita mengenai begitu tidak manusiawinya orang tua itu, tetapi suatu hal menarik adalah begitu cerdiknya orang tua itu mencari uang dengan memanfaatkan asuransi. Dalam cerita itu pihak asuransi hampir-hampir menolak permohonan klaim saat kasus ketiga tetapi memang karena tidak ada unsur kesengajaan dalam kasus itu maka klaim pun berhasil didapatkan.
Asuransi dipandang sebagai pihak yang akan membayar kerugian yang diderita dan kaya akan harta dari adanya premi-premi yang dibayarkan oleh orang-orang yang menjaminkan sesuatu tetapi sesuatu itu banyak yang berada dalam kondisi aman. Sehingga klaim yang harus dibayarkan lebih sedikit dari pada premi yang masuk.
Seperti itulah gambaran pandangan masyarakat yang umum selama ini. Dipercaya atau tudak, begitulah logika orang-orang Indonesia terutama yang berada dalam kelas menengah ke bawah berfikir tentang asuransi. Karena itu meskipun Indonesia berpenduduk 220 juta baru 5 juta penduduk yang melakukan penetrasi ke asuransi dan baru 30 juta polis yang mendaftar dalam asuransi kelompok (www.bringinlife.co.id).
Belum lagi bahwasanya citra asuransi sangat buruk dalam masyarakat tertentu. Beberapa agama tertentupun menghindari asuransi termasuk Islam, selain agama Amish. Beberapa orang menganggap dalam asuransi ada unsur maisir maupun ghoror. Maisir adalah bahwasanya asuransi dianggap sebagai badan usaha yang seperti melakukan perjudian dengan taruhan. Ketika semua orang membayar premi asuransi maka pemilik asuransi diibaratkan sedang bertaruh dengan uang premi itu. Tentunya pemilik asuransi akan berharap agar sesuatu yang dijaminnya tidak terkena apa-apa, karena kalau itu terjadi maka harus menggantinya. Begitulah sebagian orang meyakininya.
Ada pula unsur ghoror atau ketidakpastian. Ketidakpastian mengenai nasib apa yang dijaminkan. Ketidakpastian apa yang akan terjadi dengan apa yang dijaminkan itu. Pun juga dibuktikan dengan penggunaan ilmu akturia dengan statistika dan probabilitas sebagai dasar utama.
Meskipun dalam Islam sendiri masih terjadi perbedaan pendapat antara ahli hukumnya, tetapi pandangan seperti itu jelas-jelas menghambat laju meluasnya asuransi di Indonesia. Diperlukan sebuah langkah ekstra untuk mengatasi benang kusut tersebut. Karena disadari ataupun tidak asuransi adalah unsur terpenting dari sebuah negara. Landasan fiolosofisnya adalah kewajiban negara untuk bisa menjadi saluran penanggungan resiko terhadap warganya yang mempunyai masalah. Dan ketika peran ini semuanya ditanggung negara tidak mungkin akan bisa terlaksana. Sehingga kehadiran asuransi lain perlu untuk menuanaikan tugas itu. Bahkan secara ideologis filosofis asuransi dilandasi oleh semangat tolong-menolong atau ta’awun yang berlanjut dengan takaful atau penanggungan beban bersama.
Takaful dan ta’awun adalah salah satu bagian dari prinsip hidup berjamaah, bermasyarakat. Pandangan inilah yang harus disebarkan dan disemaikan dalam relung hati masyarakat kita. Karena tetap saja resiko pasti ada, dan premi yang dibayarkan adalah sebagai balas jasa karena asuransi mau untuk diajak berbagi gelisah.
Tetapi beruntunglah merebaknya takaful-takaful syariah ternyata mampu membangkitkan masyarakat untuk mengikuti asuransi.
Sesungguhnya asuransi adalah sebuah jasa yang bisa menjadi salah satu pilar ekonomi suatu bangsa. Fakta mengatakan bahwa semakin maju suatu bangsa semakin besarlah peran asuransi disana. Karena asuransi bisa menjadi salah satu cara yang bisa menyediakan investasi besar dan dana besar untuk pembangunan negeri ini. Sarana fisik, fasilitas umum, jalan raya, terminal, akan mudah terbangun dengan modal besar yang disediakan oleh asuransi. Keuntungan ini akan berbalik ke masyarakat sendiri.
Akan tetapi citra asuransi harus terus dinaikkan dengan bekerja secara profesional. Berita yang tidak sedap tentang Askeskin harus ditanggapi dengan tindakan positif baik oleh negara maupun penyedia jasa asuransi supaya paling tidak selain jika seseorang terkena musibah akan barangnya dia akan mendapatkan klaim maka pun jika ada orang yang lebih tidak mampu dibanding dia dan mendapat musibah, uang premi yang dibayrkan bisa menolong mereka.

kastrat bem kmft menyatkan mendukung ruu jph

September 15, 2009 oleh alghozaligeneration

BULETIN KASTRAT(kajian strategis)
BEM KMFakTeknik UGM,september09
Problem Rancangan Undang-undang Jaminan Produk Halal
Oleh Ikhsanudin Kastrat BEM KMFT UGM
Beberapa minggu ini komisi VIII DPR sedang sibuk dalam membahas sebuah rancangan undang-undang baru tentang jaminan produk halal. Perdebatan sengit sedang mewarnai meja-meja mereka. Argumen-argumen ilmiah maupun yang diilmiahkan ditumpahkan untuk memenangi pertempuran ideologi dalam tataran legislasi ini.
Alasan mengapa RUU ini tidak segera bisadisahkan, walaupun umur DPR yang lama tinggal sebentar lagi, adalah adanya dua kluster argument yang dilontarkan oleh fraksi PDS dan pendukung-pendukungnya, seperti lembaga-lembaga semisal Wahidin Institute, juga KADIN (Kamar Dagang dan Industri). Meskipun semua fraksi selain PDS mendukung pengesahan RUU ini tetapi tetap saja hal itu tidak bisa membuat DPR segera mengetok palu pengesahan.
Argumen pertama yang disampaikan penolak RUU tersebut adalah bahwasanya Negara Indonesia adalah Negara hukum. Sehingga Negara Hukum akan melaksanakan prinsip hokum. Dan prinsip hokum itu memisahkan masalah social dan masalah agama. Sehingga ketika agama dicantumkan sebagai hokum positif maka hal itu akan bersifat melanggar konstitusi. Terlebih lagi menurut mereka, pengesahan RUU ini sangat bias mayoritas, dan mengabaikan hak-hak minoritas. Sebuah hokum tidak bisa hanya disandarkan pada doktrin agama tertentu. Karena Indonesia adalah Negara berdasarkan Pancasila, bukan Negara agama. Begitu kata mereka.
Argumen kedua yang diungkapkan adalah bahwasannya adanya RUU ini akan menghambat iklim usaha terutama pada industry kecil dan menengah yang nota bene adalah tulang punggung perekonomian nasional. Menurut mereka sertifikasi halal akan menghambat berkembangnyaUMKM terutama bagi mereka yang belum siap dengan Good Manufacturing Process dalam pengolahan yang baik, kemudian dengan UU itu industry makanan nonhalal akan tutup dan itu buruk bagi perekonomian nasional yang baru tertekan akibat krisis financial 2008. Juga menurut mereka disinyalir akan terjadi lading korupsi dari hasil pungutan-pungutan untuk mendapatkan sertifikasi halal tersebut.
Secara sepintas mungkin orang menilai bahwa dua alas an itu cukup logis, tetapi ketika didalami lagi maka landasan kedua argument tersebut tidak sahih. Alas an pertama pengesahan itu dianggap bertentangan dengan pancasila. Padahal pada pancasila sesungguhnyasesuai tafsir yang benar seperti yang dipahami oleh penyusunnya, bahwa dalam sila keempat berbunyi kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan. Hikmah disini bukan berarti kebijksanaan atau wisdom tapi adalah wahyu, yaitu quran dan sunnah. Makanya apa yang ada di alquran adalah harus dijadikan pemimpin. Inilah tafsir yang benar yang disusun oleh 9 orang penyusun piagam Jakarta yang kemuadian mereka mengkompromikan penghapusan 7 kata itu, yang disana terdapat AA. Maramis, seorang tokoh nonmuslim. Beliau menyetujuinya.(Lebih jelas Lihat Buku “Pancasila bukan hak konstitusional umat islam”, karya Adian husaini.
Jika pasal 29 menjamin kebebasan umat beragama untuk menjalankan ajaran agama dan kepercayanya, seharusnya Islampun juga berhak menjalankan hak konstitusional umat islam yaitu memakan makanan halal.
Kemudian jika dianggap bahwa adanya UU ini, ekonomi akan mengalami kemunduran, adalah tidak benar. Dengan adanya sertifikasi halal, produk akan terjamin kehalalnnya sehingga konsumen akan merasa nyaman memakai produk itu. Padahal sebagian besar pendudk Indonesia adalah muslim yang konsumtif. Dengan adnya UU itu muslim akan lebih nyamn engan produk sehingga bukan akan rugitetapi akan menambah untung. Bagi produk yang non halal, bahwasanya produk yang tidak halal itu menurut riset yang telah banyak dilakukan, ternyata mempunyai banyak hikmah kesehatan. Babi haram karena dagingnya mempunyai struktur acak yang berbeda sekali dengan daging ayam maupun hewan yang halal. Minuman keras banyak menjadi penyebab kriminalitas. Apalagi ketikadi zaman ini uang menjadi Tuhan yang membuat orang menghalalkan abon babi, bakso tikus, bakso formalin, pewarna berbahaya, melamin yang tidak bisa dicegah oleh peraturan-peraturan lama.
Bagaimanapun kebenaran harus ditegakkan. Dan penegakan kebenaran itu tetap menimbulkan konsekuensi logis. Yang salah harus memperbaiki kesalhannya.
Penulis mengakui bahwa pendapat ini dilontarkan karena penulis adalah seorang muslim yang ingin agar syariat ditegakkan. Tetapi dari segi realitas yang ada delik hokum halal dan haram adalah sesuatu yang dekat sekali dengan kehidupan masyarakat. Ketika UU ini deterapkan, orang yang nonmuslim juga tidak akan terganggu untuk mengkonsumsi produk yang tidak halal. Karena UU ini hanya menginginkan agar segala produk yang beredar harus ada sertifikasi halal jika itu memang ingin disebarkan kesemua masyarakat terutama kepada yang muslim. Dan ketika produk itu hanya dikhususkan untuk orang nonmuslim maka produk itu tidak boleh disebarkan ke masyarakat muslim. Intinya rakyat yang muslim terjamin haknya untuk bias mengkonsumsi produk yang halal. Toh ketika non muslim ingin memakan yang tidak halal tetap dipersilahkan tetapi produk itu tidak boleh beredar di masyarakat muslim.
Yang mengatakan bahwa industry produk haram akan tertutup sehingga ekonomi bangsa sedikit goyah maka itu adalah suatu konsekuensi yang harus ditanggung untuk bisa saling menjalankan hak agama masing-masing. Muslim menginginkan produknya halal. Dan ketika produsen barang haram itu ada, tidak boleh juga mereka mengganggu hak itu. Karena makan produk halal adalah hak konstitusional umat muslim. Toh juga lingkup industry non halal sangat sempit. Minuman keras memang seharusnya diberantas. Obat yang ada produk haramnya, biasanya sel kapsul, sudah ada ganti produk halalnya. Karena betapapun produk halal itu bukan untuk mempersulit manusia tetapi biar manusia terjamin kehidupannyya.
Ketika humanism dan hawa nafsu mengalahkan wahyu, maka akan runtuhlah langit dan bumi. Karena dalam masa sekarang ini virus-virus sekularisme telah menjangkiti kebanyakan manusia Indonesia. Agama, Negara,maupun social itu tidak boleh dipisahkan.Apalagi Pancasila telah menjamin berlakunya wahyu.

manusia tidak boleh lupa

September 3, 2009 oleh alghozaligeneration

jangan sampai manusia lupa.
lupa akan kulitnya. Manusia setidaknya harus ingat dari mana dia berasal? apa misinya dimuka bumi? kemana ia akan pergi dan kembali?
Ketika dia telah bisa menjawab itu dengan sebenarnya dan sungguh-sungguh insya $wl kebahagiaan yang akan dia peroleh.

semua itu berawal dari mimpi.

Agustus 31, 2009 oleh alghozaligeneration

Semua itu berawal dari sebuah mimpi.

Sebuah tulisan Ikhsanudin untuk manusia di seluruh dunia. Wahai dunia aku akan menggenggammu.

Semua itu berawal dari mimpi yang benar. Tahukah engkau apa sebenarnya arti sebuah mimpi. Mimpi itu adalah yang memberimu motivasi, dorongan, harapan, bahkan tekad untuk mengerjakan sesuatu nutuk mencapai mimpi itu.

Sungguh dari mimpilah pembesar-pembesar itu bisa menjadi besar dan menampak di dunia yang sementara ini.

Tentunya engkau adalah orang yang mengetahui bagaimana kebesaran seorang Nabi Muhammad SAW. ajaran yang dibawanya bahkan sempat menguasai duapertiga dunia dan pernah juga menjadi imperiumterbesar sepanjang masa. Islam yang dibawanya sanggup untuk menjadikan muslim pemeluknya menjadi raja bangsa-bangsa, menjadi raja ilmu-ilmu di dunia.

Dan apa yang dihasilkan dari peradaban islam itu telah menjadikan Barat